Sabtu, 15 September 2018

MAKALAH PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)


PENDIDIKAN  ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
Description: logounsri14092008_3793.jpg
Nama kelompok :
1.      Asina Widiawati (06051181621061)
2.      Cindy Aurelia (06051181621071)
3.      Nur Imanti (06051181621060)
4.      Riska Rahmasari (06051181621003)

Dosen pengampuh :
Drs. Alfiandra, M.Si.
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
INDRALAYA
2017






1. Pengetahuan sosial

a.  Dasar Teori
            Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang menggunakan konsep keterpaduan yang didalamnya terintegrasi semua disiplin ilmu.
            Ilmu pengetahuan sosial merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang ada sehingga dapat mewujudkan satu pendekatan disipliner dari aspek cabang-cabang ilmu sosial (Trianto 2013:171)
            Dimensi Pengetahuan (Knowledge), berkaitan dengan (a) fakta adalah data yang spesifik tentang peristiwa, objek, orang dan hal-hal yang terjadi (peristiwa), dalam pembelajaran IPS diharapkan siswa dapat mengenal  berbagai jenis fakta khususnya terkait dengan kehidupan (b) konsep adalah kata-kata atau frase yang mengelompok, berkategori dan memberi arti terhadap kelompok fakta yang berkaitan, konsep merujuk pada suatu hal atau unsur kolektif  yang diberi label, dan (c) generalisasi adalah ungkapan/pertanyaan dari dua atau lebih konsep yang saling terkait. Generalisasi memiliki tingkat kompleksitas isi, disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
          Pengembangan konsep dan generalisasi adalah proses mengorganisir dan memaknai sejumlah fakta dan cara hidup bermasyarakat. Merumuskan generalisasi dan mengembangkan konsep merupakan tujuan pembelajaran IPS yang harus dicapai oleh siswa dengan bimbingan guru. Hubungan antara generalisasi dan fakta bersifat dinamis. Memperkenalkan informasi baru yang dapat mendorong siswa untuk merumuskan generalisasi merupakan cara yang baik untuk menkondisikan terjadinya proses belajar bagi siswa. Dengan informasi baru, pada siswa dapat mengubah dan memperbaiki generalisasi yang telah dirumuskan terlebih dahulu.
b.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut (Notoatmodjo, 2003) yang dikutip oleh Hendra (2008),
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu:
a.       Umur
Makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. Dari uraian ini, maka dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur- umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau
mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.
b.Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu model untuk berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai lingkungan (Khayan, 1997). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari
seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan.
c.Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang.
d.Sosial Budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan ini seeorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan.
e.Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri.
f.Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
g.Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo, 1997)

c.              Cara Mengukur
     Pengukuran pengetahuan sosial dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas (Notoatmodjo, 2005). Cara mengukur tingkat pengetahuan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, kemudian dilakukan penilaian nilai 1 untuk jawaban benar dan nilai untuk jawaban salah. Kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu baik, sedang, kurang. Dikatakan baik (>80%),cukup (60-80%), dan kurang (<60%) (Khomsan, 2000)
1.      Keterampilan sosial
a.       Dasar teori
            Keterampilan sosial adalah keterampilan yang berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat (Hidayati 20016: 48).
            Suatu kemampuan atau kecakapan yang nampak dalam tindakan yaitu mampu mencari, memilih  dan mengolah informasi, mampu mempelajari hal-hal baru untuk memecahkan masalah sehari-hari, memiliki keterampilan berkomunikasi dengan baik lisan maupun tulisa, saling menghargai saling berbagi, dan mampu bekerja sama dengan orang lain scara majemuk, mampu mentransformasikan kemampuan akademik dan beradaptasi dengan perkembangan masyarakat global (Sjamsudin dan Maryani 2006:6).
Hargie et.al (1998) memberikan pengertian keterampilan sosial (Social Skill) sebagai kemampuan individu untuk berkomunikasi efektif dengan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu, di mana keterampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari. Keterampilan sosial (Social Skill) akan mampu mengungkapkan perasaan baik positif maupun negatif dalam hubungan interpersonal, tanpa harus melukai orang lain. Merrel (2008) memberikan pengertian keterampilan sosial (Social Skill) sebagai perilaku spesifik, inisiatif, mengarahkan pada hasil sosial yang diharapkan sebagai bentuk perilaku seseorang.
keterampilan sosial merupakan perilaku yang perlu dipelajari, karena memungkinkan individu dapat berinteraksi, memperoleh respon positif atau negatif. Cartledgedan Milburn (1986: 143-149). Karena itu keterampilan sosial merupakan kompetensi yangsangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang termasuk di dalamnya peserta didik, agar dapat memelihara hubungan sosial secara positif dengan keluarga, teman sebaya, masyarakat dan pergaulan di lingkungan yang lebih luas.
 Menurut Maryani (2011:18)
 Keterampilan sosial merupakan kemampuan untuk menciptakan hubungan sosial yang serasi dan memuaskan berbagai pihak, dalam bentuk penyesuaian terhadap lingkungan sosial dan memecahkan masalah sosial ( Chapli dalam Suhartini 2004: 18).
berpendapat bahwa k eterampilan sosial merupakan bentuk perilaku, perbuatan dan sikap yang ditampilkan oleh individu ketika berinteraksi dengan orang lain disertai dengan ketepatan dan kecepatan sehingga memberikan kenyamanan bagi orang yang berada disekitarnya. keterampilan sosial dapat dikelompokan dalam empat bagian, namun keempat bagian tersebut saling berkaitan.Keempat bagian tersebut sebagai berikut:
1.      Keterampilan dasar berinteraksi: berusaha untuk saling mengenal, ada
kontak mata, berbagai informasi atau material.
2.      Keterampilan komunikasi: mendengar dan berbicara secara bergiliran,
Melembutkan suara (tidak membentak), menyakinkan orang untuk mengemukakan pendapat, mendengarkan sampai orang tersebut
menyelesaikan pembicaraannya.
3.      Keterampilan membangun tim/kelompok: mengakomodasi pendapat
orang, bekerjasama, saling menolong dan saling memperhatikan.
4.      Keterampilan menyelesaikan masalah: mengendalikan diri, empati,
memikirkan orang lain, taat terhadap kesepakatan, mencari jalan keluar
dengan berdiskusi, respek terhadap pendapat yang berbeda (Maryani,2011:20).
b.                  Cara mengukur
Cara mengukur keterampilan sosial adalah dengan memperhatikan seberapa cepat dan tepat individu dalam menyesuaikan diri dalam masyarakat, baik dalam berintraksi, mengemukakan pendapat,menyalurkan ide atau saling bertukar pendapat, menjadi pendengar yang baik dan bekerja sama serta tentu saja kesemua itu memberikan rasa nyaman kepada lingkungannya.


2.      Keterampilan Intelektual

a.       Dasar Teori
            Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis, sintetis fakta,konsep dan mengembangkan prinsip (Gagne).
            Menurut Winataputra (Hadian, 2009 : 40)  memaparkan Keterampilan  intelektual (intellectual skill), terdiri atas:
a. Mengemukakan pikiran secara lisan dan atau tulisan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan penuh argumentasi dan rasa tanggung jawab sosial.
b. Menganalisis masalah kemasyarakatan/ kewarganegaraan secara kritis.
c. Mengambil keputusan individual dan atau kelompok secara cerdas dan bertanggung jawab.

b.      Cara Mengukur
Bisa dilihat dari cara ia berbicara dan memberikan pendapat serta kemampuan dalam menganalisis suatu permasalahan secara kritis.

3.      Kepedulian Sosial

a.       Dasar Teori :
            Kepedulian sosial yaitu sebuah sikap keterhubungan dengan kemanusiaan pada umumnya, sebuah empati bagi setiap anggota komunitas manusia. Kepedulian sosial adalah kondisi alamiah spesies manusia dan perangkat yang mengikat masyarakat secara bersama-sama (Adler, 1927)
b.      Cara Mengukur :
Mengamati bagaimana ia memberikan respon terhadap keadaan sosial yang ada dilingkungannya dan melihat tindakan apa yang akan dilakukannya.












Daftar Pustaka :
Suprijono. Agus. 2012. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar. hlm 5
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/113/jtptunimus-gdl-diyahwidya-5613-3-babii.pdf






Tidak ada komentar:

Posting Komentar