PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

Nama
kelompok :
1.
Asina Widiawati (06051181621061)
2.
Cindy Aurelia (06051181621071)
3.
Nur Imanti (06051181621060)
4.
Riska Rahmasari (06051181621003)
Dosen pengampuh :
Drs. Alfiandra, M.Si.
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
INDRALAYA
2017
1. Pengetahuan
sosial
a. Dasar
Teori
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan
salah satu mata pelajaran yang menggunakan konsep keterpaduan yang didalamnya terintegrasi
semua disiplin ilmu.
Ilmu pengetahuan sosial merupakan
integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah,
geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Pengetahuan sosial dirumuskan
atas dasar realitas dan fenomena sosial yang ada sehingga dapat mewujudkan satu
pendekatan disipliner dari aspek cabang-cabang ilmu sosial (Trianto 2013:171)
Dimensi Pengetahuan (Knowledge), berkaitan dengan (a) fakta adalah data yang spesifik tentang peristiwa, objek, orang dan hal-hal yang
terjadi (peristiwa), dalam pembelajaran IPS diharapkan siswa dapat
mengenal berbagai jenis fakta khususnya
terkait dengan kehidupan (b) konsep adalah
kata-kata atau frase yang mengelompok, berkategori dan memberi arti terhadap
kelompok fakta yang berkaitan, konsep merujuk pada suatu hal atau unsur
kolektif yang diberi label, dan (c) generalisasi adalah ungkapan/pertanyaan dari dua atau lebih konsep yang
saling terkait.
Generalisasi memiliki tingkat kompleksitas isi, disesuaikan dengan tingkat
perkembangan siswa.
Pengembangan konsep dan generalisasi adalah proses mengorganisir dan
memaknai sejumlah fakta dan cara hidup bermasyarakat. Merumuskan generalisasi
dan mengembangkan konsep merupakan tujuan pembelajaran IPS yang harus dicapai
oleh siswa dengan bimbingan guru. Hubungan antara generalisasi dan fakta bersifat dinamis.
Memperkenalkan informasi baru yang dapat mendorong siswa untuk merumuskan
generalisasi merupakan cara yang baik untuk menkondisikan terjadinya proses
belajar bagi siswa. Dengan informasi baru, pada siswa dapat mengubah dan
memperbaiki generalisasi yang telah dirumuskan terlebih dahulu.
b. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut (Notoatmodjo, 2003) yang dikutip oleh Hendra
(2008),
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan,
yaitu:
a.
Umur
Makin tua umur seseorang maka proses-proses
perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya
proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan
tahun. Daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. Dari
uraian ini, maka dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur seseorang dapat
berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada
umur- umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau
mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.
b.Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi
baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari
proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu model untuk
berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu
menguasai lingkungan (Khayan, 1997). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
perbedaan intelegensi dari
seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat
pengetahuan.
c.Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi
seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga
hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan
seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir
seseorang.
d.Sosial Budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang
lain, karena hubungan ini seeorang mengalami suatu proses belajar dan
memperoleh suatu pengetahuan.
e.Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses
pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran
pendidikan itu dapat berdiri sendiri.
f.Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan
informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar
maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
g.Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah
tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman
itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.Oleh sebab itu pengalaman
pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini
dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo, 1997)
c.
Cara Mengukur
Pengukuran pengetahuan sosial dapat
dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang
ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Pengetahuan yang ingin
diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas
(Notoatmodjo, 2005). Cara mengukur tingkat pengetahuan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan,
kemudian dilakukan penilaian nilai 1 untuk jawaban benar dan nilai untuk
jawaban salah. Kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu baik, sedang, kurang.
Dikatakan baik (>80%),cukup (60-80%), dan kurang (<60%) (Khomsan, 2000)
1.
Keterampilan sosial
a. Dasar
teori
Keterampilan sosial adalah
keterampilan yang berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat (Hidayati 20016:
48).
Suatu kemampuan atau kecakapan yang
nampak dalam tindakan yaitu mampu mencari, memilih dan mengolah informasi, mampu mempelajari
hal-hal baru untuk memecahkan masalah sehari-hari, memiliki keterampilan
berkomunikasi dengan baik lisan maupun tulisa, saling menghargai saling
berbagi, dan mampu bekerja sama dengan orang lain scara majemuk, mampu
mentransformasikan kemampuan akademik dan beradaptasi dengan perkembangan
masyarakat global (Sjamsudin dan Maryani 2006:6).
Hargie
et.al (1998) memberikan pengertian keterampilan sosial (Social Skill) sebagai
kemampuan individu untuk berkomunikasi efektif dengan orang lain baik secara
verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat
itu, di mana keterampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari. Keterampilan
sosial (Social Skill) akan mampu mengungkapkan perasaan baik positif maupun
negatif dalam hubungan interpersonal, tanpa harus melukai orang lain. Merrel
(2008) memberikan pengertian keterampilan sosial (Social Skill) sebagai
perilaku spesifik, inisiatif, mengarahkan pada hasil sosial yang diharapkan
sebagai bentuk perilaku seseorang.
keterampilan sosial merupakan perilaku yang perlu
dipelajari, karena memungkinkan individu dapat berinteraksi, memperoleh respon
positif atau negatif. Cartledgedan Milburn (1986: 143-149). Karena itu
keterampilan sosial merupakan kompetensi yangsangat penting untuk dimiliki oleh
setiap orang termasuk di dalamnya peserta didik, agar dapat memelihara hubungan
sosial secara positif dengan keluarga, teman sebaya, masyarakat dan pergaulan di
lingkungan yang lebih luas.
Menurut Maryani
(2011:18)
Keterampilan sosial
merupakan kemampuan untuk menciptakan hubungan sosial yang serasi dan memuaskan
berbagai pihak, dalam bentuk penyesuaian terhadap lingkungan sosial dan
memecahkan masalah sosial ( Chapli dalam Suhartini 2004: 18).
berpendapat bahwa k eterampilan sosial merupakan
bentuk perilaku, perbuatan dan sikap yang ditampilkan oleh individu ketika
berinteraksi dengan orang lain disertai dengan ketepatan dan kecepatan sehingga
memberikan kenyamanan bagi orang yang berada disekitarnya. keterampilan sosial
dapat dikelompokan dalam empat bagian, namun keempat bagian tersebut saling
berkaitan.Keempat bagian tersebut sebagai berikut:
1. Keterampilan
dasar berinteraksi: berusaha untuk saling mengenal, ada
kontak mata, berbagai informasi atau
material.
2. Keterampilan
komunikasi: mendengar dan berbicara secara bergiliran,
Melembutkan suara
(tidak membentak), menyakinkan orang untuk mengemukakan pendapat, mendengarkan
sampai orang tersebut
menyelesaikan
pembicaraannya.
3. Keterampilan
membangun tim/kelompok: mengakomodasi pendapat
orang,
bekerjasama, saling menolong dan saling memperhatikan.
4. Keterampilan
menyelesaikan masalah: mengendalikan diri, empati,
memikirkan
orang lain, taat terhadap kesepakatan, mencari jalan keluar
dengan
berdiskusi, respek terhadap pendapat yang berbeda (Maryani,2011:20).
b.
Cara mengukur
Cara
mengukur keterampilan sosial adalah dengan memperhatikan seberapa cepat dan
tepat individu dalam menyesuaikan diri dalam masyarakat, baik dalam berintraksi,
mengemukakan pendapat,menyalurkan ide atau saling bertukar pendapat, menjadi
pendengar yang baik dan bekerja sama serta tentu saja kesemua itu memberikan
rasa nyaman kepada lingkungannya.
2.
Keterampilan Intelektual
a.
Dasar Teori
Keterampilan intelektual yaitu
kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri
dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis, sintetis fakta,konsep dan
mengembangkan prinsip (Gagne).
Menurut
Winataputra (Hadian, 2009 : 40) memaparkan
Keterampilan intelektual (intellectual
skill), terdiri atas:
a. Mengemukakan pikiran secara lisan
dan atau tulisan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan penuh
argumentasi dan rasa tanggung jawab sosial.
b. Menganalisis masalah kemasyarakatan/
kewarganegaraan secara kritis.
c. Mengambil keputusan individual
dan atau kelompok secara cerdas dan bertanggung jawab.
b. Cara
Mengukur
Bisa dilihat dari cara ia berbicara
dan memberikan pendapat serta kemampuan dalam menganalisis suatu permasalahan
secara kritis.
3. Kepedulian
Sosial
a. Dasar Teori
:
Kepedulian sosial yaitu sebuah sikap
keterhubungan dengan kemanusiaan pada umumnya, sebuah empati bagi setiap
anggota komunitas manusia. Kepedulian sosial adalah kondisi alamiah spesies
manusia dan perangkat yang mengikat masyarakat secara bersama-sama (Adler,
1927)
b.
Cara Mengukur :
Mengamati bagaimana ia memberikan
respon terhadap keadaan sosial yang ada dilingkungannya dan melihat tindakan
apa yang akan dilakukannya.
Daftar Pustaka :
Suprijono.
Agus. 2012. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka
Belajar. hlm 5
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/113/jtptunimus-gdl-diyahwidya-5613-3-babii.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar