Mata Kuliah : Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup
Dosen Pengampu: Drs. Alfiandra M.Si
Sulkipani S.Pd,
M.Pd
Nama Kelompok :
1. Riska Rahmasari (06051181621003)
2. Indri Devita Sari (06011181621002)
3. Amalia Sri Astuti
(06051281621068)
Analisis Hasil Sensus di Indonesia Tahun 2010
A.
Jumlah dan Distribusi Penduduk
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2010 adalah sebanyak 237 641 326 jiwa, yang mencakup mereka yang
bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118 320 256 jiwa
(49,79 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 119 321 070 jiwa
(50,21 persen).
Penyebaran
penduduk menurut pulau-pulau besar adalah: pulau Sumatera yang luasnya 25,2
persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk,
Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang
luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9
persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni
oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5
persen penduduk.
B.
Jenis Kelamin Penduduk
Penduduk
laki-laki Indonesia sebanyak 119 630 913 jiwa dan perempuan sebanyak 118 010
413 jiwa. Seks Rasio adalah 101, berarti terdapat 101 laki-laki untuk setiap
100 perempuan.
Seks Rasio
menurut provinsi, yang terendah adalah 94 di Provinsi NTB dan tertinggi adalah
113 di Provinsi Papua. Seks Rasio nasional pada kelompok umur 0-4 sebesar 106,
umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar
antara 93 sampai dengan 109, dan umur 65+ sebesar 81.
Umur Penduduk Median umur penduduk
Indonesia tahun 2010 adalah 27,2 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk
Indonesia termasuk kategori menengah (intermediate). Penduduk suatu wilayah
dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika
median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.
Rasio ketergantungan penduduk Indonesia adalah 51,31. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 46,59 sementara di daerah perdesaan 56,30.
Perkiraan rata-rata umur kawin pertama penduduk laki-laki sebesar 25,7 tahun dan perempuan 22,3 tahun (perhitungan Singulate Mean Age at Marriage/SMAM).
Rasio ketergantungan penduduk Indonesia adalah 51,31. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 46,59 sementara di daerah perdesaan 56,30.
Perkiraan rata-rata umur kawin pertama penduduk laki-laki sebesar 25,7 tahun dan perempuan 22,3 tahun (perhitungan Singulate Mean Age at Marriage/SMAM).
C.
Penduduk Migran Risen
Jumlah
penduduk yang merupakan migran risen terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil
SP2010 mencatat 5 396 419 penduduk atau 2,5 persen penduduk merupakan
migran masuk risen antar provinsi. Persentase migran risen di daerah perkotaan
tiga kali lipat lebih besar migran risen di daerah perdesaan, masing-masing
sebesar 3,8 dan 1,2 persen. Menurut gender, jumlah migran laki-laki lebih
banyak daripada migran perempuan, 2 830 114 berbanding
2 566 305 orang. Seks rasio migran risen adalah 110,3. Data-data
tersebut menunjang teori, bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan
laki-laki lebih banyak yang melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan
daerah tujuan migran, seperti: Kepulauan Riau, Papua Barat, dan DI Yogyakarta.
Daerah-daerah ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya
alasan utama pindah para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan,
atau sekolah.
D.
Penduduk Migran Seumur Hidup
Jumlah
penduduk yang merupakan migran seumur hidup terus meningkat dari waktu ke
waktu. Hasil SP2010 mencatat 27 975 612 penduduk atau 11,8 persen
penduduk merupakan migran masuk seumur hidup antar provinsi. Persentase migran
seumur hidup di daerah perkotaan hampir tiga kali lipat migran seumur hidup di
daerah perdesaan, masing-masing sebesar 17,2 dan 6,3 persen. Menurut gender,
jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan,
14 736 632 berbanding 13 238 980 orang. Seks rasio migran
seumur hidup adalah 111,3. Data-data tersebut menunjang teori, bahwa migran
lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak yang melakukan
perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran, seperti:
Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur. Daerah-daerah ini mempunyai
daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindah para migran
ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau sekolah.
Pendidikan Setiap warga negara yang
berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar
(Pasal 6 UU No. 20 tahun 2003). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk
7-15 tahun yang belum/tidak sekolah sebesar 2,51 persen dan yang tidak sekolah
lagi sebesar 6,04 persen.
Ukuran/indikator untuk melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terkait pendidikan antara lain pendidikan yang ditamatkan dan Angka Melek Huruf (AMH). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5 tahun ke atas berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 40,93 persen. Ini menunjukkan kualitas SDM menurut tingkat pendidikan formalnya relatif masih rendah. AMH penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 92,37 persen yang berarti setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas ada 92 orang yang melek huruf. Penduduk dikatakan melek huruf jika dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.
Ukuran/indikator untuk melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terkait pendidikan antara lain pendidikan yang ditamatkan dan Angka Melek Huruf (AMH). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5 tahun ke atas berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 40,93 persen. Ini menunjukkan kualitas SDM menurut tingkat pendidikan formalnya relatif masih rendah. AMH penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 92,37 persen yang berarti setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas ada 92 orang yang melek huruf. Penduduk dikatakan melek huruf jika dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.
E.
Jumlah Angkatan Kerja Mencapai 107,7
Juta Jiwa
Berdasarkan hasil SP 2010, jumlah
penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) adalah sebesar 169,0 juta jiwa, terdiri
dari 84,3 juta orang laki-laki dan 84,7 juta orang perempuan. Dari jumlah
tersebut, jumlah angkatan kerja, yakni penduduk 15 tahun ke atas yang aktif
secara ekonomi yaitu mereka yang bekerja , mencari pekerjaan atau mempersiapkan
usaha sebesar 107,7 juta jiwa, yang terdiri dari 68,2 juta orang laki-laki dan
39,5 juta orang perempuan. Dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, jumlah
angkatan kerja yang tinggal di perkotaan sebesar 50,7 juta orang dan yang
tinggal di perdesaan sebesar 57,0 juta orang. Dari jumlah angkatan kerja
tersebut, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 104,9 juta jiwa dan yang
mencari kerja sebesar 2,8 juta jiwa.
F.
Perumahan Penduduk Indonesia
Peningkatan jumlah penduduk
Indonesia yang pesat menjadikan kebutuhan tempat tinggal semakin meningkat
pula. Hasil SP2010 memperlihatkan rumah tangga yang menempati rumah milik
sendiri sebesar 77,70 persen. Dari angka tersebut, 55,28 persen diantaranya
telah memiliki bukti hukum yang kuat, yaitu memiliki sertipikat hak milik (SHM)
baik itu atas nama anggota rumah tangga ataupun bukan atas nama anggota rumah
tangga. Sebagian besar rumah tangga menempati bangunan tempat tinggal dengan
luas lantai perkapita 13 m2 atau lebih (56,98 persen) serta sumber
penerangan utamanya adalah listrik (93,89 persen).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar