Sabtu, 15 September 2018

contoh-contoh syariah dan fiqih dalam kehidupan sehari-hari!



Mata Kuliah : Hukum Islam

Carilah contoh-contoh syariah dan fiqih dalam kehidupan sehari-hari!

Pengertian syariat dan fiqih
Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan mukallaf dan berkaitan dengan ketetapan, pilihan, atau kondisi yang langsung dibuat oleh Allah dan diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad.

Fikih adalah pengetahuan yang digunakan sebagai landasan untuk masalah amal perbuatan dan bukan masalah akidah yang bersifat praktis (‘amaliyyah) yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci yang bersumber dari AL-Qur’an. dengan kata lain apa yang ada di dalam Hadist atau fikih pasti terdapat dan berdasarkan hukum syari’at(AL-Qur’an) dan Fiqih menjelaskan secara rinci apa yang tidak terperinci didalam Al-Qur’an.
Contoh dalam kehidupan sehar-hari.
1.      Kewajiban Sholat
Dalam Al-Qur’an
Di dalam Alqur’an disebutkan bahwa setiap muslim itu wajib mengerjakan sholat tanpa melalaikannya sedikitpun. Dalam mengerjakan sholat juga harus dipenuhi keikhlasan dan niat sehingga dilakukan dengan Khusyu’.  Allah Ta’ala berfirman,
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5)

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
Dalam keadaan mereka menundukkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (QS. Al-Ma'arij : 44)

Dalam Hadist
Jumhur ulama telah sepakat bahwa khusyu' dalam shalat tidak termasuk rukun atau pun wajib. Khusyu' dalam shalat hanya termasuk sunnah saja. Tidak sampai kepada derajat wajib apalagi rukun.
Apabila seseorang shalat dengan tidak khusyu', tidak membuat shalatnya rusak atau batal. Sebab khusyu' bukan termasuk perkara rukun atau kewajiban shalat.
Dalilnya adalah hadits beliau SAW ini :
عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ رَأَى رَجُلاً يَبْعَثُ بِلِحْيَتِهِ فيِ الصَّلاَةِ فَقَالَ : لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW melihat seseorang memainkan jenggotnya ketika shalat. Maka beliau berujar,"Seandainya hatinya khusyu' maka khusyu' pula anggota badannya. (HR. At-Tirmizy)
Didalam hadist dijelaskan bahwa ada ada keringanan dalam mengerjakan shalat pun diberikan kepada orang sakit. Di antaranya dibolehkannya shalat sambil duduk, tidak terlalu menghadap kiblat, tidak ikut shalat Jumat dan Id, menjama' shalat dan lainnya. sabda Rasulullah SAW :
إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَسْجُدَ عَلَى الأَْرْضِ وَإِلاَّ فَأَوْمِئْ إِيمَاءً وَاجْعَل سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ
Bila kamu mampu untuk sujud di atas tanah, maka lakukanlah. Namun bila tidak, maka anggukan kepala. Jadikan sujudmu lebih rendah dari ruku’mu. (HR. Ath-Thabrani).

2.      Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

Dalam Al-Qur’an
Karena penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)
Dalam Hadist
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda
وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga

Nabi Muhammad SAW bersaba :
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ
Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar