Mata Kuliah : Hukum Islam
Carilah contoh-contoh
syariah dan fiqih dalam kehidupan sehari-hari!
Pengertian syariat dan fiqih
Syariat adalah
perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan
mukallaf dan berkaitan dengan ketetapan, pilihan, atau kondisi yang langsung
dibuat oleh Allah dan diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad.
Fikih adalah pengetahuan yang digunakan sebagai landasan untuk masalah amal perbuatan dan bukan masalah akidah yang bersifat praktis (‘amaliyyah) yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci yang bersumber dari AL-Qur’an. dengan kata lain apa yang ada di dalam Hadist atau fikih pasti terdapat dan berdasarkan hukum syari’at(AL-Qur’an) dan Fiqih menjelaskan secara rinci apa yang tidak terperinci didalam Al-Qur’an.
Contoh dalam
kehidupan sehar-hari.
1.
Kewajiban
Sholat
Dalam Al-Qur’an
Di dalam Alqur’an disebutkan bahwa setiap muslim itu wajib
mengerjakan sholat tanpa melalaikannya sedikitpun. Dalam mengerjakan sholat juga
harus dipenuhi keikhlasan dan niat sehingga dilakukan dengan Khusyu’. Allah Ta’ala berfirman,
فَوَيْلٌ
لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang
yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5)
خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ
الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
Dalam keadaan mereka menundukkan pandangannya (serta)
diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (QS. Al-Ma'arij : 44)
Dalam Hadist
Jumhur ulama telah sepakat bahwa khusyu' dalam shalat
tidak termasuk rukun atau pun wajib. Khusyu' dalam shalat hanya termasuk sunnah
saja. Tidak sampai kepada derajat wajib apalagi rukun.
Apabila seseorang shalat dengan tidak khusyu', tidak
membuat shalatnya rusak atau batal. Sebab khusyu' bukan termasuk perkara rukun
atau kewajiban shalat.
Dalilnya adalah hadits beliau SAW ini :
عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ رَأَى رَجُلاً
يَبْعَثُ بِلِحْيَتِهِ فيِ الصَّلاَةِ فَقَالَ : لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا
لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ
Dari Abi Hurairah
radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW melihat seseorang memainkan jenggotnya ketika
shalat. Maka beliau berujar,"Seandainya hatinya khusyu' maka khusyu' pula
anggota badannya. (HR.
At-Tirmizy)
Didalam hadist dijelaskan bahwa ada ada keringanan dalam mengerjakan shalat pun diberikan
kepada orang sakit. Di antaranya dibolehkannya shalat sambil duduk, tidak
terlalu menghadap kiblat, tidak ikut shalat Jumat dan Id, menjama' shalat dan
lainnya. sabda Rasulullah SAW :
إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَسْجُدَ عَلَى الأَْرْضِ وَإِلاَّ
فَأَوْمِئْ إِيمَاءً وَاجْعَل سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ
Bila kamu mampu untuk sujud
di atas tanah, maka lakukanlah. Namun bila tidak, maka anggukan kepala. Jadikan
sujudmu lebih rendah dari ruku’mu. (HR. Ath-Thabrani).
2.
Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga
Dalam Al-Qur’an
Karena penting
dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan
ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya) :
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ
وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan
kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An
Nisa: 36)
Dalam Hadist
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti
tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda
وَاللهِ لَا
يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا
رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah,
tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu
wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari
bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)
Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga
Nabi Muhammad SAW bersaba :
إِذَا طَبَخْتَ
مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ
فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ
“Jika engkau memasak
sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah
sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar