Sabtu, 15 September 2018

MAKALAH EPISTIMOLOGI


BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Epistimologi
Epistemologi berasal dari Bahasa Yunani Episteme dan Logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan Logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Secara etimologi Epistemologi dapat diartikan, teori pengetahuan yang benar.
   Sebagai cabang ilmu filsafat, epistimologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umu dan hakiki dari pengetahuan manusia. Bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarannya. Epistimologi atau filsafat pengetahuan pada dasarnya juga merupakan suatu upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Maka, epistimologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyatan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarjawabkan secara nalar.kan, dijamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Normatif berarti menentukan norma atau tolak ukur dalm hal ini tolak ukur kenalaran bagi pengetahuan.  Epistimologi sebagai cabang ilmu filsafat tidak cukup hanya memberi deskripsi atau paparan tentang bagaimana proses manusia mengetahui sesuatu tetapi perlu membuat penentuan mana yang betul dan mana yang keliru berdasarkan norma epistemik. Sedangkan kritis berarti banyak mempertanyakan dan menguji kenalaran cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui.
B.            Bagaimana Cara Kerjanya
Bicara tentang cara kerja atau metode pendekatan epistimologi berarti bicara tentang ciri pendekatan terhadap pengetahuan. Yang membedakan ilmu filsafat secara umum dari ilmu filsafat dengan ilmu-ilmu lainnya bukan karena objek materilnya tetapi objek formalnya. Filsafat berusaha secra kritis mengajukan dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum, menyeluruh dan mendasar. Filsafat bermaksud secara kritis menggugat serta mengusik pandangan dan pendapat umum yang sudah mapan. Bukan sekedar cari permasalahan, tetapi guna merangsang orang untuk berpikir lebih serius dan bertanggung jawab. Tidak asal menerima pandangan  dan pendapat umum. Langkah dalam epistimologi antara lain berpikir deduktif (rasionalis) dan induktif (empiris). Suatu penjelasan, biar bagaimanapun meyakinkannya, tetap harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar.
Dari sinilah pendekatan rasinal digabungkan dengan pendekatan empiris sebagai langkah-langkah dalam mengkrontruksi pengetahuan ilmiah melalui berpikir dan menggunakan metode ilmiah yaitu perumuan masalah, penyusunan kerangka berpikir, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpilan (suriah sumantri, 2000).
Proses kegiatan illimah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Tentu saja hal ini membawa kita kepada Pertanyaan lain : mengapa manusia mulai mengamati sesuatu ? perhatian tersebut dinamakan John Dewey sebagai pengenalan suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita menimbulkan pertanyaan.

C.           Macam – Macam Epistimologi
   Berdasarkan cara kerja atau metode pendekatan yang diambil terhadap gejala pengetahuan bisa dibedakan menjadi beberapa macam  :
a.              Epistemologi metafisis, yakni epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengandaian metafisika tertentu. Hal ini berasal dari suatu paham tertentu tentang kenyataan , lalu membahas tentang bagaimana manusia mengetahui kenyataan tersebut. Misalnya plato meyakini bahwa kenyataan yang sejati adalah kenyataan dalam dunia ide-ide, sedangkan kenyataan sebagaimana kita alami didunia ini adalah kenyataan yang fana dan gambaran kabur saja dari kenyataan dalam dunia ide-ide.
b.             Epistemologi skeptis, seperti misalnya dikerjakan oleh descartes, kita perlu membuktikan dulu apa yang dapat kita ketahui sebagai sungguh nyata atau keliru segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan. Kesulitan dalam metode ini adalah apabila orang sudah masuk sarang skeptisisme dan konsisten dengan sikapnya, tak gampang menemukan jalan keluar.
c.              Epistemologi kritis, epistemologi ini tidak memprioritaskan metafisika atau epistemologi tertentu, melainkan berankat dari asumsi, prosedur dan kesimpulan pemikiran akal sehat ataupun asumsi,prosedur, dan kesimpulan pemikirn ilmiah sebagimana kita temukan dalam kehidupan, lalu kita coba tanggapi secara kritis asumsi, prosedur dan kesimpulan tersebut.
Macam-macam epistemologi berdasarkan objek kaji dibagi dua :
a.              Epistemolgi Individual, kajian tentang pengetahuan baik tentang status kognitifnya maupun proses pemerolehannya, dianggap sebagai dapat didasarkan atas kegiatan manusia individual sebagai subjek penahu terlepas dari konteks sosialnya.
b.             Epistemologi sosial, kajian filosofis terhadap pengetahuan sebagai data sosiologis. Bagi epistemologis sosial, hubungan sosial, kepentingan sosial dan lembaga sosial dipandang sebagai faktor-faktor yang amat menetukan dalam proses, cara, maupun pemerolehan pengetahuan.

D.           Mengapa Epistimologi perlu Dipelajari
Terdapat 3 alasan mengapa epistemologi perlu dipelajari :
a.              Alasan pertama dari pertimbangan strategis, kajian epistemlogi pelu karena pengetahuan sendiri merupakan hal yang secara strategis penting bagi kehidupan manusia. Strategis berkenaan dengan bagaimana mengelola kekuasaan atau daya kekuatan yang ada sehingga tujuan dapat tercapai.
b.             Alasan kedua berkenaan dengan pertimbangan kebudayaan, penjelasan yang pokok adalah kenyataan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur dasar kebudayaan. Kebudayaan menyimpan unsur-unsur penting lain seperti sitem kemasyarakatan, sistem religi, sistem bahasa, sistem seni, sistem ekonomi, sistem teknologi, sistem simbol serta permaknaannya dan sebagainya. Pengetahuan memegang peran penting dalam kesemuanya, berkat pengetahuan manusia dapat mengelola dalam dan memberdayakan alam linkungannya.
Dari segi pertimbangan kebudayaan, mempelajari epistemologi diperlukan pertama-tama untuk mengungkap pandangan epistemologis yang sesungguhnya ada dan terkandung dalam setiap keudayaan. Setiap kebudayaan, entah secara implisit ataupun secaran eksplisit entah secara lisan ataupun tulisan entah secara sistematis ataupun tidak selalu memuat pandangan tentang pengetahuan berikut arti dan pentingnya dalam kehidupan manusia.
c.              Alasan ketiga dari pertimbangan pendidikan, epistemologi perlu dipelajari karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangakan pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan. Proses belajar-mengajar dalam konteks pendidikan selalu memuat unsur penyampaian pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Penyampaian pengetahuan dari pihak guru dan pencarian serta penguasaan pengetahuan dari pihak peserta didik merupakan unsur hakiki dalam pendidikan. Pendidikan juga perlu mengembangkan peserta didik menuju kematanagan spiritual, moral, emosional, dan sosialnya. Tetapi dari kesemuanya itu aspek pengetahuan tetap berperan. 


















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
          Berdasarkan uraian mengenai sumber-sumber epistemologi tersebut maka dapat disimpulkan, bahwa epistemologi adalah teori pengetahuan yang merupakan cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ruang lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Dengan adanya penjelasan mengenai epistemologi, maka akan diketahui asal mulanya pengetahuan, terjadinya pengetahuan, dan sumber-sumber pengetahuan. Sehingga kita mengetahui dengan jelas dari mana kita mendapatkan pengetahuan dan cara memperolehnya.
          Sumber-sumber pengetahuan tersebut antara lain adalah alam, akal, hati, pengalaman indera, sejarah, intuisi, keyakinan, dan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indra, dan sumber-sumber tersebut mempunyai metode tersendiri dalam pengetahuan tersebut. Dan tanpa sumber-sumber tersebut maka kita tidak tahu darimana pengetahuan itu berasal.
B.  Kritik dan saran
     Melalui pembelajaran epistimologi dalam filsafat  ilmu kita dapat memahami bahwa dalam mempelajari sesuatu dan meyakininya  itu harus disertakan pemikiran yang logis dan dibuktikan dengan metode ilmiah.











DAFTAR PUSTAKA
Rahmat, Aceng dkk. Filsafat Ilmu Lanjutan.Jakarta: Kencana Media Group. 2011
Sudarminta, J. Epistimologi Dasar. Yogyakarta: Pustaka Filsafat. 2002
Abidin, Zainal. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Rajawali Press.2012
Susanto, A. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara.2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar